Wednesday, August 26, 2015

Pemerintah Harus Segera Ambil Langkah Antisipasi Turunnya Harga Minyak Dunia


BANDARCAPSA - Harga minyak dunia diperkirakan masih akan terus turun seiring melimpahnya pasokan dipasar internasional. Sungguh ini benar benar menjadi ancaman sangat serius bagi negara.

Menurut Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia, Ferdinand Hutahaean, ancaman serius juga bagi KKKS, bagi Pertamina dan PGN. Karena itu, dia mendorong agar pemerintah segera mengambil langkah steategis dan taktis disusun sebagai kebijakan responsif dan antisipatif menghadapi resiko ancaman didepan mata.
"Ada beberapa hal yang tentu harus dicermati dalam hal ini, pertama adalah penurunan penerimaan negara dari sektor migas. kemungkinan bahwa KKKS akan merevisi atau menurunkan target lifting karena harga jual mendekati harga produksi atau mungkin harga produksi berada diatas harga jual," ungkap Ferdinand kepada Tribun, Jakarta, Rabu (26/8/2015).
Selain itu adalah penurunan harga saham Pertamina dan PGN akibat reaksi pasar yang melihat sektor ini merugi. Dan kerugian yang dialami Pertamina maupun PGN akibat dari transaksi jual beli yang tidak sehat.
"Impor yang tinggi dengan dolar yang tinggi nilai tukarnya sementara harga jual pada rupiah. Keempat hal ini harus segera dicarikan solusinya oleh pemerintah. jangan sampai terlambat mengambil kebijakan karena rasa optimisme yang tidak wajar," cetusnya.




Pemerintah Harus Segera Ambil Langkah Antisipasi Turunnya Harga Minyak Dunia

Tuesday, August 25, 2015

BI: Jangan Terperangkap Ilusi Kurs



BANDARCAPSA - Deputi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Causa Iman Karana, menyebut, bank sentral telah menetapkan sejumlah langkah antisipatif secara nasional menyikapi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Dengan mengendalikan pergerakan kurs agar sesuai dengan negara mitra dagang. “Kurs jangan terlalu kuat agar barang kita tidak kalah saing tapi juga jangan berfluktuasi agar tidak menimbulkan ketidakpastian yang berlebihan,” katanya Selasa (25/8/2015).
Menurutnya, wajar jika rupiah ikut bergerak ketika kurs mitra dagang bergerak. Di sinilah peran bank sentral melakukan intervensi melalui pasar valas. Menjadi persoalan, kata dia, saat ini masyarakat sering terperangkap dengan ilusi level kurs.
Saat kurs bergerak dari Rp 9.500 ke Rp 9.600 (depresiasi 11%) orang tenang saja. Tapi waktu bergerak dari 9.975 ke 10 ribu(2,5%) langsung panik karena menganggap Rp 10 ribu sebagai level psikologis.
Padahal kurs itu harga relatif. Artinya nilainya harus selalu dibandingkan dengan gerakan mata uang lain. Untuk peran ini, meskipun tekanan global sangat luar biasa, BI sudah cukup mampu mengendalikan rupiah bergerak searah dengan negara mitra.
Minimal dalam kondisi ini, menurut Causa, Indonesia bisa sebanding atau bahkan lebih baik daripada depresiasi negara lain. Malaysia depresiasinya mencapai -19 persen, Meksiko -15 persen, Turki -25 persen, Brazil -32 persen, Rusia -19 persen, Korea -9 persen, dan Thailand -9 persen.
Dengan kondisi ini, daya saing ekspor dari sisi kurs juga harus tetap dijaga dan insentif untuk melakukan impor seperti membeli gadget, mobil impor dan plesiran ke luar negeri perlu dikurangi. Upaya menahan kenaikan impor juga dapat dilakukan dengan mempertahankan suku bunga pada tingkat yang relatif tinggi.
Jika semua langkah ini berjalan maksimal makan defisit transaksi berjalan akan turun tajam. Seperti yang sudah telihat saat ini dari 4,6 persen PDB pada kuartal II 2014 menjadi 2,1 persen kuartal II tahun ini.
“Dengan menjaga daya saing ekspor makan cadangan devisa tetap terjaga. Karena jika ini habis dan kurs juga semakin melambung maka kita bisa saja tidak punya modal lagi untuk membayar impor dan utang luar negeri pemerintah,” jelasnya.(cha)



BI: Jangan Terperangkap Ilusi Kurs

Thursday, August 6, 2015

RI Impor 30.000 Sapi Indukan, 11.000 Ekor Tiba Akhir Bulan Ini


RI Impor 30.000 Sapi Indukan, 11.000 Ekor Tiba Akhir Bulan Ini


 

 

www.meja13.com Kementerian Pertanian akan mendatangkan 30.000 ekor sapi indukan dan 1.200 ekor bibit sapi dari luar negeri untuk tahun anggaran 2015. Sebanyak 11.000 ekor sapi indukan impor itu, akan tiba pada akhir bulan Agustus ini.

Impor sapi indukan dan bibit sapi ini, merupakan program yang telah disiapkan Kementan sejak awal tahun 2015. Total anggaran pengadaan sapi indukan dan dan bibit sapi sebesar Rp 1 triliun.

"Akan tiba dalam waktu dekat kalau tidak salah 11.000 ekor sapi indukan sampai akhir bulan ini," kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman usai Rapat Koordinasi di Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Kamis (6/8/2015).

Nantinya, sapi indukan impor tersebut akan disalurkan ke provinsi yang membutuhkan. Sapi tersebut rencananya dibagikan ke kelompok-kelompok ternak yang sudah biasa mengembangbiakan bibit. 

"Akan dibagikan kepada peternak," ucapnya.

Selain itu, Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) juga akan menerima sapi indukan dan sapi anakan untuk dikembangbiakan. 

Berdasarkan data Kementan, produksi daging sapi lokal dalam bentuk karkas tahun 2014 sebanyak 460.000 ton. Ditargetkan, produksi daging sapi akan naik menjadi 550.000 ton pada 2015, 590.000 ton pada 2016, 630.000 ton pada tahun 2017, 680.000 ton pada tahun 2018, dan 730.000 ton pada tahun 2019.

 

 

 

 www.meja13.com












Monday, August 3, 2015

Rupiah Tembus RP13.500, Menkeu: Bukan Tanggung Jawab Pemerintah


www.meja13.com 
Pada penutupan Jumat lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan yang lebih dahsyat dan dipaksa menyerah pada mata uang negeri Paman Sam tersebut hingga menembus level Rp13.539 per USD (data Bloomberg) dan Rp13.542 per USD (dataYahoo Finance).

Menanggapi jatuhnya keterpurukan nilai tukar Garuda yang makin dalam, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menjelaskan bukanlah tugas Pemerintah untuk mengeluarkan rangkaian kebijakan untuk mengamankan level rupiah.

Bambang mengatakan, rupiah yang terdepresiasi lebih dalam ini merupakan tanggung jawab otoritas moneter yakni Bank Indonesia. Menurut dia, Bank Indonesia lah yang seharusnya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"Kebijakannya ada di Bank Indonesia, nilai tukar bukan tanggung jawab kita, utamanya adalah tanggung jawab Bank Indonesia," kata Bambang pada media , seperti diberitakan Minggu (2/8/2015).

Bambang menekankan, pelemahan rupiah tidak membawa risiko pada sisi fiskal negara. Yang bisa terkena dampaknya kata dia yakni lebih konsen pada sektor riil yang pasti terpukul.

Dirinya pun menegaskan, melemahnya rupiah bukan karena faktor kesengajaan pemerintah untuk menaikkan ekspor. Pasalnya ekspor kini kian tergerus, surplus neraca dagang pun semakin menipis.

"Kita enggak membiarkan (rupiah jatuh karena) segala macam. Tanggung jawab mata uang di Bank Indonesia, jad tanya arahnya di Bank Indonesia," jelas dia.

Sekadar informasi, Bank Indonesia memang mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, seperti yang diamanatkan Undang-Undang No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia.