Tuesday, October 13, 2015

Rupiah Diprediksi Bakal Terus Melemah


BANDARCAPSA   -  Nilai tukar rupiah kembali melemah di hadapan dollar AS. Di pasar spot, Selasa (13/10) nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah 1,72 persen dari sehari sebelumnya menjadi Rp 13.638.

Agus Chandra, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures mengatakan pelemahan rupiah seiring dengan kenaikan nilai tukar dollar AS di hadapan mata uang dunia lainnya. "Data ekonomi dari China, Inggris, serta zona Euro negatif sehingga memicu investor beralih ke dollar AS," ujarnya.
Selasa malam (13/10) China merilis data inflasi, disusul penjualan ritel AS pada hari Rabu (14/10) dan inflasi AS di hari Kamis (15/10). Data tersebut yang menurut Agus akan mempengaruhi pergerakan rupiah selanjutnya.
"Inflasi China akan menunjukkan kondisi ekonomi di sana dan mempengaruhi Indonesia sebagai mitra dagang. Sementara data AS akan menjadi pengerak mata uang USD," lanjut Agus.
Dari dalam negeri, Agus pun menduga rupiah akan digerakkan oleh data surplus neraca perdagangan dan pengumuman tingkat suku bunga BI.
"Neraca perdagangan perkiraannya surplus namun impor dan ekspor turun. Sedangkan tingkat suku bunga BI tetap," imbuhnya. Agus memperkirakan pelemahan rupiah akan berlanjut pada Kamis mendatang.(Wuwun Nafsiah)
Rupiah Diprediksi Bakal Terus Melemah


Friday, October 9, 2015

Menutup Akhir Pekan, Dolar AS Merosot ke Rp 13.312


BANDARCAPSA  -  Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus bergerak agresif. Mengutip data perdagangan Reuters, Jumat (9/10/2015), dolar AS sore ini berada di posisi Rp 13.312. Sepanjang hari ini, rupiah terus menunjukkan penguatannya.

Pagi tadi, dolar AS dibuka di level Rp 13.561 dan sempat menyentuh level tertingginya di angka yang sama, dan level terendahnya di Rp 13.290.

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), David Sumual menilai, penguatan rupiah yang cukup signifikan ini merespons hasil meeting The Federal Open Market Committee (FOMC) semalam, yang memberikan sinyal jika bank sentral AS, yaitu Federal Reserve (The Fed), tidak akan menaikkan tingkat suku bunganya setidaknya hingga akhir tahun ini.

"Hasil FOMC semalam, pasar membacanya bahwa kenaikan suku bunga bakal ditunda. Spekulasinya bahkan Maret tahun depan baru akan dinaikkan. Karena kalau suku bunga dinaikkan, dolar AS tambah kuat dan inflasi tinggi. Sementara target mereka inflasi hanya 2%," jelas dia.

David menjelaskan, penguatan rupiah saat ini sudah cukup tinggi bahkan lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain di Asia. Sinyal The Fed yang diyakini pelaku pasar tidak akan menaikkan suku bunga acuannya di tahun ini, dibarengi dengan peluncuran paket kebijakan ekonomi pemerintah jilid III memberikan sentimen positif di pasar keuangan.

"Rupiah sama ringgit penguatannya paling tinggi dibanding emerging market lainnya. Mungkin kemarin investor melihat kalau rupiah dan ringgit terlalu melemah sehingga murah, jadi saat ada sinyal The Fed tidak jadi naikkan suku bunga, mereka beli," jelas dia.
 
Menutup Akhir Pekan, Dolar AS Merosot ke Rp 13.312