Monday, September 21, 2015

Rupiah Jeblok, Misbakhun Salahkan Kinerja Bank Indonesia


BANDARCAPSA - Anggota Komisi XI DPR Muhammad Misbakhun mengkritik kinerja Bank Indonesia karena belum bekerja dengan maksimal untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat.

Selama ini, kata dia, Pemerintah yang terkena kritik atas penurunan nilai tukar rupiah, padahal BI yang belum maksimal melaksanakan tugasnya.
"Begitu rupiah jatuh, yang dimaki-maki Presiden. Jangan sembunyi atas nama independensi," kata Misbakhun dalam rapat dengan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Gubernur BI Agus Martowardoyo, dan Menteri Bappenas Sofyan Djalil, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta , Senin (21/9/2015).
Misbakhun mengaku dirinya melihat ironi besar ketika Presiden Jokowi menyampaikan pengumumkan soal paket kebijakan ekonomi demi mengundang investasi.
Di saat yang sama, Gubernur BI Agus Martowardojo mengumumkan Paket Kebijakan menstabilkan nilai tukar.
Masalahnya, dari beberapa kebijakan yang dibuat BI, hanya satu yang cukup fungsional, yakni yang menyangkut perubahan batas penukaran valas.
"Soal nilai tukar ini, saya tak melihat upaya anda yang sungguh-sungguh dan luar biasa. BI bilang akan hadir di pasar dan mengintervensi. Kehadirannya di mana? Buktinya rupiah masih 14.500 terhadap dollar AS," ucap Misbakhun.
Karena itu, dia meminta agar BI bersedia diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan.
Menurut dia, BI mengada-ada bila menolak diaudit dengan alasan takut strategi diketahui orang luar dan menganggu independensi.
"BI tak boleh jadi negara di dalam negara. Karena banyak bisnis di BI dimainkan Yayasan Karyawan BI. Makanya ini perlunya audit ini. DPR bisa meminta BPK melaksanakannya," ucap Misbakhun.


Rupiah Jeblok, Misbakhun Salahkan Kinerja Bank Indonesia

Monday, September 14, 2015

Senin Sore, Rupiah Kembali Sentuh Level Terendah


BANDARCAPSA - Rupiah kembali sentuh level terendah di hadapan dollar Amerika Serikat (AS).

Mengacu data Bloomberg, Senin (14/9) di pasar spot rupiah kembali ke level Rp 14.333 per dollar AS atau melemah 0,08 persen dari sebelumnya Rp 14.322 per dollar AS.
Laju rupiah masih dibayangi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Pasar tengah menanti keputusan bank sentral AS itu dalam rapat pekan ini.
Analis PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong menuturkan peluang kenaikan suku bunga Bank Sentral AS atau the Fed masih menjadi perdebatan, apakah akan dinaikkan bulan ini atau ditunda kembali hingga Desember. Minimnya kepastian itu membuat pelaku pasar cenderung mengambil posisi "wait and see" sehingga laju rupiah mendatar.
Ia mengatakan bahwa data produk domestik bruto (PDB) kuartal dua Amerika Serikat menjadi 3,7 persen mendukung peluang kenaikan suku bunga the Fed. Namun, inflasi Amerika Serikat yang masih rendah dan harga dolar AS yang terlalu kuat dapat menjadi hambatan bagi the Fed menaikkan suku bunga.
"Diharapkan rapat the Fed menghasilkan pandangan baru sehingga tidak membuat pasar kembali bergejolak," kata Lukman dikutip dari Antara.
Lukman Leong mengharapkan bahwa rapat the Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunganya agar pasar mendapatkan kepastian sehingga investor dapat menghitung secara pasti langkah selanjutnya dalam berinvestasi.
"Kenaikan suku bunga the Fed memang akan berdampak pada menurunnya aset di negara berkembang, termasuk di Indonesia, namun itu hanya bersifat jangka pendek. Setelah itu aset di negara berkembang akan kembali normal," katanya.
Ia menambahkan bahwa jika hasil rapat the Fed seperti pada pertemuan sebelumnya atau belum memberikan pandangan baru dalam menaikkan suku bunga maka gejolak di pasar negara berkembang dapat lebih besar. "Situasi itu menjadi tidak lebih bagus bagi rupiah ke depannya," ucapnya.
Sementara itu, dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Senin (14/9) mencatat nilai tukar rupiah bergerak melemah menjadi Rp14.322 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp14.306 per dollar AS.(Yudho Winarto)



Senin Sore, Rupiah Kembali Sentuh Level Terendah